LEON288

Cerita Sex Perzinahan Besama Tante Girang Yang Kaya Raya

Cerita Sex Perzinahan Besama Tante Girang Yang Kaya Raya

Majalah Dewasa – Cerita Sex Perzinahan Besama Cuaca kelihatannya cerah dengan matahari yang bersinar tapi kok tiba tiba hujan langsung turun, semua orang langsung pada berteduh yang saat itu sedang menikmati senja, keramaian langsung hilang, gerimis meningkat dan hujan deras, didepanku ada seorang awanita yang mengangkat jemuran yang banyak Kelihatannya kurang mengantisipasi akibat baru bangun tidur. Masih memakai piyama.

Cerita Sex Perzinahan Besama “Ragil, bantuin Tante dong!” Pusat bola online
Tanpa bicara aku membantunya. Sprei, kelambu, baju, t-shirt, dan …ih, pakaian dalam.
“Bawa ke mana, Tante?”
“Sekalian ke dalam aja!”
Tante Imas berjalan di depanku. Menaiki tangga hingga lantai dua. Aku cukup puas menikmati irama pinggulnya yang kukira agak dibuat-buat. Saat menghadap ke arah terang, siluet tubuhnya jelas membayang. Seakan telanjang. Kami masuk ke rumahnya. Tante Imas menggeletakkan jemuran di sudut kamarnya, akupun mengikutinya.
“Makasih ya? Kamu mau minum apa, Ka?” tanyanya yang langsung menghentikan maksudku untuk langsung pulang.

“Apa aja deh, Tante. Asal anget.”
Kurebahkan diri di sofanya. Hmm, lumayan nyaman. Tante Imas belum mempunyai anak. Yang kutahu, suaminya, Om yang tak kutahu namanya itu hanya sekali-kali pulang. Dengar-dengar pekerjaanya sebagai pelaut. Ha ha, pelaut. Di mana mendarat, di situ membuang jangkar. Sinis sekali aku.

“Om belum pulang, Tante?” tanyaku basa-basi sambil menerima teh hangat.
“Belum, nggak tentu pulangnya. Biasanya sih, hari Minggu. Tapi hari Minggu kemarin nggak pulang juga.”
“Tante nggak kemana-mana?”
“Mau kemana, paling cuma di rumah saja. Kalau ada Ombaru pergi-pergi.”
“Eh, kamu nggak ada keperluan lain, kan?”
“Nggak, Tante,” jawabku. Mau apa aku di rumah, sendirian, di tengah hujan yang semakin lebat begini.
“Temenin Tante ya. Ngobrol.”

Cerita Sex Perzinahan Besama Kamipun terlibat dalam obrolan yang biasa saja. Sekedar ingin tahu kehidupan masing masing. Dari ucapannya, kutahu bahwa suaminya bernama Om Iwan. Jarang pulang. Yang cukup membuat darahku berdesir agak cepat adalah daster itu.

Seakan aku bisa melihat dua titik di dadanya, yang timbul tenggelam ketika kami bercengkrama. Tangan Tante Imas cukup atraktif. Entah sengaja atau tidak sering menyentuh tanganku, atau mampir di pahaku. Makin lama duduknya pun semakin dekat. Hingga…

“Ragil, mau nonton film nggak? Tante punya film bagus nih.”
Wah untunglah. Rumahku tidak mempunyai vcd player. Tante Imas menyalakan TV lalu memasang film. Dan, astaga ternyata dia benar tidak memakai BH dan celana dalam. Aku bisa melihatnya jelas karena dia cukup lama berdiri menyamping, cahaya TV membuat gaun tidurnya menjadi selaput transparan.
Bentuk payudara beserta putingnya beserta rambut di pangkal paha. Aku lebih ternganga lagi karena film itu XXX. Kembali Tante Imas duduk di sampingku, malahan lebih dekat lagi. Tangannya mengusap-usap lenganku dengan lembut.

“Filmnya bagus ya?” Bisiknya pelan.
Namun terdengar di telingaku bagaikan rayuan. Aku tak mampu menjawab karena bibir bawahku menahan ekstasi yang kuat. Entah apa yang harus kulakukan kini. Mataku tak lepas dari wanita yang merintih di film itu, yang sudah distel suaranya pelan.

Tante Imas menggenggam pergelangan tanganku. Dan, astaga. Dibawanya tanganku ke payudaranya. Didiktenya tangan ini ke daerah yang tak pernah diraRagiln sebelumnya. Begitu pula tangan kiriku. Kini masing-masing telapak tangan itu memegang rata masing-masing pasangannya, payudara.
Pandanganku masih ke arah TV. Aku tak berani menatap wajah Tante Imas. . Tak pernah aku impikan hal ini terjadi. Sementara di TV desahan si gadis yang menghadapi dua batang penis makin membuat hot suasana.
“Ragil, hadap sini dong,” ujarnya manja.

Kuhadapkan wajahku. Kulihat tatapan pengharapan di sana. Wajah Tante Imas cukup cantik, dengan kulit putih dan senyuman manis yang menghiasinya. Aku masih memegang payudara itu, hanya memegang dengan daster yang melapisinya.

Ah, tak terasa daster itu. Hanya payudara besar ini fokus pikiranku. Tanganku masih canggung, sementara ada sesuatu yang mulai menggeliat di bawah sana.

Tiba-tiba dia menghentikanku, dengan cara yang sempurna. Tangannya merengkuhku dalam pelukan, sementara bibirnya mencium lembut. Payudaranya menghimpit dadaku. Membuat dadaku berdetak hingga aku merasa bisa mendengarnya.

Ciumannya nikmat. Beda sekali sekali dengan apa yang ada di TV. Seakan ingin mengaliri dengan hangat jiwanya. Kami berciuman lama sekali, tak terasa tanganku ikut mendekapnya makin erat. Kulepaskan dekapanku untuk mulai mengontrol diri kembali. Berakhirlah sesi ciuman itu.
“Kenapa Ragil? Kamu marah ya?” tanyanya pelan. Titan Gel Murah Meriah

Cerita Sex Perzinahan Besama Tapi sialan, suara-suara di TV itu kembali mengacaukanku. Melumpuhkanku lagi dalam birahi.
“Maafin Tante ya? Tante…” Wajah itu mengeluarkan prana iba untuk dikasihi.
Dia menciumku lagi, dengan penuh gairah. Tapi menurutku tidak sepanas dulu. Aku juga tidak mengharapkan ciuman penuh cinta, karena hanya nafsu yang tersisa. Ciuman berpindah ke leher dan telinga. Oh, tak kusangka kalau area ini akan membuatku menggigil sebegitunya. Saya juga menirunya. Kami saling mencium leher, Tante Imas malah mencium kami dengan mesra.
“Oh, bibi…”

Lalu dia tersenyum dan berdiri. Dia perlahan melepas gaun tidurnya, dimulai dari tangannya. Satu per satu tangan pria terlantar itu terjatuh. Gaun tidurnya terlepas, tergantung sejenak di dalam lingkaran payudaranya yang besar. Dia menurunkan bajunya lagi. Dada terlihat, tanpa bra. Putih, bulat, besar, dengan puting berwarna merah muda. Mulutku terbuka seolah ingin makan. Aku menelan ludah. Dia menurunkannya lagi. Saya menikmati setiap sudut pandang. Perutnya berwarna putih dengan pinggang ramping. Pusarnya adalah hiasan. Kemeja itu menempel di ikat pinggangnya. Oh, pantatnya ditahan.

Aku memukul lebih keras, ingin mempercepat prosesnya, aku ingin segera melihat kemaluannya. Saya turunkan lagi, dan yah… vaginanya juga muncul. Dihiasi dengan rambut segitiga yang jarang. Bibir vaginanya berwarna merah cerah dan sedikit basah. Pertama kali saya melihat wanita telanjang. Dengan senyumannya, harga dirinya mengejutkanku.

“Bisakah kamu membuka pintunya sekarang juga?” ketertiban hancur.
Aku melepas kausku. Tante Imas membuka celanaku dan membuka celana jeansku namun Tante Imas tidak langsung membukanya. Dia berjongkok dan menjilat p3nisku dari luar celana dalamku. Ada bercak basah dengan sisa air liur.

Cerita Sex Perzinahan Besama Penis itu makin membesar dalam celana dalam, rasanya tak enak kerena tertahan. Segera kubuka dan …hup keluarlah batang kemaluan diikuti dua bolanya. Bibi Imas menciumnya, penisnya tampak lebih besar. Penis yang semakin ereksi berujung pada aksi menjilat lidah. Fiuh, enak sekali.
Sekarang giliran Anda untuk melakukannya. Pertama dia menyentuh seluruh bagian penisnya dan kemudian mulai menggoyangkannya. Jika masih cukup utuh, lurus dan besar, masukkan ke dalam mulut. Bibi Imas mendongak, wajahnya berseri-seri.

Lidah Tante Imas menjilat-jilat, kadang menggelitik penisku. Lalu mulai memaju mundurkan mulutnya, seakan sebuah vagina menyetubuhi penis. Ini hebat sekali. Sekitar 15 menit permainan itu berlangsung, hingga…
“Tante, saya mau ke-luar…” kataku terengah-engah.

Tante Imas malah mempercepat kocokan mulutnya. Aku ikut memegang kepalanya. Dan keluarlah ia. Aku merasa ada 5 semprotan kencang. Tante Imas tidak melepasnya, ia menelannya.
Bahkan terus mengocok hingga habis spermanya. Lega rasanya tapi lemas badanku. Tante Imas berdiri, kemudian kami berciuman lagi.

Cerita Sex Perzinahan Besama “Sekarang gantian ya…”
Kini aku menghadapi payudara siap saji. Pertama kuraba-raba dengan kedua tanganku. Remasan itu kubuat berirama. Lalu aku mulai berkonsentrasi pada puting susu. Kutarik-tarik hingga payudaranya terbawa dan kulepaskan.

Hmm, bagaimana rasanya ya? Aku mulai menjilatinya. Enak. Jilatanku pada satu payudara sementara tangan yang lain meremas satunya. Ketika kuhisap-hisap putingnya, terasa makin mancung, mengeras, dan tebal puting itu. Kulakukan pula pada payudara satunya. Oh, ternyata jika wanita terangsang, yang ereksi adalah puting susunya. Kira-kira 5 menit aku melakukannya dengan nikmat.

Kemudian jilatanku turun, hingga vaginanya. Kucoba dengan jilatan-jilatan. Kusibakkan lagi rambut kemaluannya agar jilatan lebih sempurna. Ada seperti daging kecil yang menyembul. Yang kutahu, itu adalah klitoris. Kuhisap seperti menghisap puting susu, eh Tante Imas merintih.
“Hmm, Ragil, jangan dihisap. Geli. Tante nggak kuat.”

Dan Tente Imas benar-benar lunglai. Tubuhnya rebah ke sofa. Dia terlentang dengan paha mengangkang memperlihatkan vagina terbuka dan payudara yang berputing tegak. Aku lanjutkan lagi kegiatan ini. Makin lama kemaluannya makin basah. Jilatan dan hisapanku makin bersemangat, sementara di sana Tante meremas-remas payudaranya sendiri menahan ektasi.

Tiba-tiba pahanya meremas kepalaku dan… seperti ada aliran lendir yang keluar dari vaginanya. Otot-otot gua berkontraksi. Itu adalah orgasme, sungguh menakjubkan dan saya melihatnya dari dekat. Lendir yang keluar tidak saya buang, saya hisap dan telan.

Itu lebih baik dari sperma. Tubuh Bibi Imas yang gemetar akhirnya tenang. Cengkeraman di pahanya mulai melemah namun penisku mulai mengeras lagi. Aku dengan lembut mencium vaginanya saat aku mencium bibirnya. Bibi Iya tersenyum. Bibirnya berkata, “Terima kasih,” tapi tidak ada suara yang keluar. Gambar-gambar dalam film menstimulasi kita. Seorang wanita berdada sedang berbaring telentang di meja kantor. Di atasnya, seorang pria dengan panjang dan tebal sedang menangkup dadanya. Tangan wanita itu menekan dadanya erat-erat dan penisnya menyelinap melalui lubangnya.

Cerita Sex Perzinahan Besama Kupikir pasti asyik sekali. Aku menjilati dulu payudara Tante Imas, agar basah dan lengket. Tak lupa dengan hisapan-hisapan di putingnya. Setelah merasa cukup, aku duduk di muka payudara itu. Tante Imas merapatkan celah payudaranya.

Dia tersenyum bahagia. Saya mulai memasuki ruang dada secara perlahan, seolah-olah itu adalah lubang vagina. Fiuh, rasanya luar biasa. Saya mulai menggerakkan penis saya maju mundur secara berirama. Kepala penisku terlihat jelas saat aku bergerak maju. Kalau kamu ejakulasi, air mani itu pasti akan langsung menyembur ke wajah bibimu. Tanganku juga memegang dadaku untuk meningkatkan daya dorong penisku. Terkadang aku menarik putingku. Aku mencium bibirnya, mengangkat pahaku di lehernya dan kemudian memasukkan penisku kembali ke dalam dirinya.

Mengisap lalu menjilat lagi, seolah belum puas. Posisi dudukku tidak nyaman. Saya tidak bisa duduk karena itu akan memberi tekanan pada lehernya dan tangan saya tidak bisa menggerakkan kepalanya maju mundur. Oh, ada sandaran tangan. Lembut lagi. Apalagi jika itu bukan payudara. Saat saya pencet, penisnya juga seperti terkompresi. Tante Imas menarik penisku sejenak, mengajakku ke posisi 69. Baiklah, menurutku tidak apa-apa. Jadi saya mengubah posisi saya lagi. Tubuhku berhadapan dengan Tante Imas, namun saling berhadapan. Penisku ada di mulutnya, vaginanya ada di mulutku. Sampai titik tertentu, kami melakukan ini. Saya tidak tahu apakah dia mengalami orgasme lagi, tetapi dia masih menghisap penis saya, pahanya menempel erat ke kepala saya tetapi tidak ada cairan yang keluar.
“Ragil, hentikan.” serunya. judi online terbesar
Meski aku merasa bahagia dengan posisi ini. Bibi Imas berdiri dan berjalan menuju dapur. Rupanya dia baru saja meminum air dingin. Bibi Imas datang. Bawakan dua gelas air es dan beri saya dua pil yang menurut saya obat kuat. Kami minum masing-masing. Bibi menatapku lalu menonton filmnya. “Ayo kita benar-benar melakukannya, ayo,” katanya.
“Ayo, kita mandi.”
Dia meraih p3nisku seolah-olah dia sedang memegang tanganku, mengundangku untuk mengambilnya. Kami pergi ke kamar mandi. Bak mandinya cukup besar, mari kita mulai lagi. Saat mandi, mereka berpelukan dan saling bersentuhan. Cerita Sex Perzinahan Besama Nikmat sekali menyabuni payudaranya, senikmat disabuni penisku. Tak ada yang terlewatkan, termasuk vagina dan anus. Ketika air mulai penuh, kami berendam. Airnya tak diberi busa. Nyaman sekali. Lalu kami mulai saling merangsang, meninggikan tensi kembali. Tante Imas mengocok penisku dalam air, sementara aku meraba-raba vaginanya.

Segera setelah itu, dia duduk di tepi bak mandi. Dia tampak seperti ingin menjilat vaginanya. Aku merangkak dan menjilatnya. Cairan itu mulai mengalir lagi.
“Pakai tangan juga dong,” pintanya lanjut.

Aku menuruti saja. Kukocok dengan telunjuk kananku. Kucoba telunjuk dan jari tengah, semakin asyik. Tangan kiriku mengusap klitorisnya. Tante memejamkan matanya menahan nikmatnya. Sebelum berlanjut lebih jauh, Tante menghentikan. Membalik badannya menjadi menungging dan membuka pantatnya.
Ternyata dari tadi aku belum mengeksplorasi daerah anus. Akupun mencobanya. Kujilat anusnya, reaksi Tante mendukung. Kujilat-jilat lagi, dari anus hingga vagina. Lalu kocoba masukkan dua jariku lagi ke vaginanya dan mengocoknya. Lidahku menjilat-jilat lagi.
Daerah pantat yang menggembung berdaging kenyal seperti payudara. Akupun suka. Tante Imas menunjukkan reaksi seperti akan orgasme lagi. Desahannya mulai keras.
“Ragil, Tante mau keluar lagi nih. Cepat! Pakai penismu. Ayo masukin penismu. Cumbu Tante, Ragil,” jeritnya tertahan putus-putus.

Astaga, dirty talk sekali. Membuat aku makin terangsang. Aku siapkan penisku, walau agak bingung karena tak ada pengalaman. Tante Imas mengocok vaginanya sendiri sambil menungguku memasukkan penis. Penis sudah kuarahkan ke vagina.

“Tante, nggak bisa masuk, nih,” tanyaku bingung.
“Tekan saja yang kuat. Tapi pelan-pelan.”
Aku ikuti sarannya, tetap saja susah. Dasar pemula. Jadinya penisku hanya merangsang mulut vagina saja, mengggosok klitoris, tapi itu malah membuat Tante makin terangsang.
“Ayo masukkan, Tante sudah hampir keluar,”

Dengan tenaga penuh aku coba lagi. Dan, berhasil. Kepala penisku bisa masuk walau sempit sekali. Tante Imas bergoyang untuk meraRagiln gesekan karena klimaksnya semakin dekat. Ketika aku coba masukkan lebih dalam lanjut pantat Tante bergoyang hebat. Otot vaginanya seperti meremas-remas. Penisku yang walau baru kepalanya saja menikmati remasan vagina ini. Dan Tantepun orgasme. Setelah itu dia jatuh dan berbaring dalam bathtub. Aku sudah melepaskan penisku.
“Tante, maafin saya ya,” kataku agak menyesal.

Cerita Sex Perzinahan Besama Aku belum memasukkan seluruh penisku dalam vaginanya saat dia orgasme.
“Nggak apa-apa. Kepala penisnya sudah nikmat, koq. Ayo kita coba lagi. Sekarang penis kamu mau dikulum, nggak?” Tak usah bertanya. Ganti aku yang duduk di tepi bathtub”.
Tante merangkak dan mengulum penisku. Ah, pose seperti ini membuat aku nyaman, seakan aku yang punya kuasa. Di ujung tubuh yang merangkak itu ada pantat.
Wah, empuknya seperti payudara. Akupun menjamah dan meremas-remasnya. Kadang aku membandingkan dengan satu tangan tetap meremas pantat, tangan yang lain meremas payudara. Kenikmatan ganda. Kelihatannya Tante juga menikmati sekali.

Ombak berdebur kecil di bathtub itu. KuraRagiln penisku mulai megeluarkan tanda akan klimaks. Tumben cukup lama sekali aku bertahan. Mungkin karena obat yang diberikan Tante. Kuhentikan gerakan Tante, kuanggukkan kepalaku ke wajahnya yang masih mengulum penisku. Tante berdiri, aku mengikutinya.
Tante membuka vaginanya, aku mengarahkan penisku. Kugosok-gosokkan ke vaginanya. Kutemukan klitosinya. Seperti puting susu, kumasukkan klitoris itu ke dalam lubang penisku. Rangsangannya kuat, sampai-sampai Tante mau jatuh lagi seperti ketika klitorisnya kuhisap kuat-kuat.

Ok, sekarang aku mulai memasukkan penisku. Tante Imas menggenggam penisku, mengarahkan agar bisa masuk. Aku seperti orang bodoh yang harus diajari untuk melakukan gerakan yang kupikir semua laki-laki juga bisa. Ternyata tidak mudah. Dengan susah payah akhirnya kepala penisku masuk.
Seperti tadi, kucoba goyang maju mundur untuk membuatnya siap melanjutkan misinya. Suasana begitu sepi, mungkin sudah malam. Tapi hujan masih menetes satu-satu. Sunyi. Saat itu, tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah. Tok…tok…tok… Dan kami diam seperti hendak dipotret saja,
“Imas…Imas, ini aku. bukain pintu dong…”, teriak seorang laki-laki.
Kami bagai tersambar geledek, mematung dalam badai. Hujan tadi berlanjut menjadi badai akibat suara itu. situs judi deposit dana pulsa
“Mas Iwan…”, bisik Tante Imas pelan. Penisku langsung lemas, keluar begitu saja dari vagina yang telah susah payah berusaha dijebolnya.

Cerita Sex Perzinahan Besama “Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku akan berpura-pura…”
“Kalau aku?”
“Sembunyi saja.” “Dimana?” Kata-kata kami meluncur cepat nyaris tak bersuara. Kami berusaha berfikir. Agak sulit, karena sedari tadi hanya menggunakan nafsu.
“Imas, kamu tidur ya? Bukain dong,” suara Om Iwan seakan detik-detik bom waktu yang siap meledak. Wajah Tante Imas sedikit cerah.
“Aku ada akal…”
“Gimana?” tanyaku tak sabar.
“Kamu di sini saja dulu. Jangan keluar sebelum kupanggil.”
Tante Imas merendam lagi dirinya dalam bathtub, kemudian keluar. Aku menutup pintu kamar mandi, tidak terlalu rapat agar bisa melihat keadaan. Kulihat Tante Imas membawa pakaianku dan menengelamkannya dalam tumpukan jemurannya.
Mengelap lagi sofa dengan dasternya, melemparkan daster itu ke tumpukan jemuran. Kemudian membuka pintu.

Cerita Sex Perzinahan Besama Apa yang dilakukannya? Dia sudah gila? Aku bisa mati jika suaminya tahu kami telah berbuat. Belum sih, tapi hanpir menyetubuhi istrinya. Lalu? {Adakah mantra untuk menghilang? Aku takut menghadapi kenyataan Saat ini Di tempat ini Dalam keadaan ini Dengan apa yang telah kulakukan.

Cerita Sek Tetangga, Sselingkuh Sama Tetangga, Tetangga Hot, Tetangga Mesum, Tetangga Kesepian, Mesum Tetangga, Cerita Tante Ganas, Cerita Hot, Cerita ABG, Cerita Janda, Kisah Panas 2019, Adegan Semi, Cerita Perawan, Kisah Hot Terbaru, Adegan Panas Di Atas Ranjang, Tetangga Semi, Tante Selingkuh, Cerita Terbaru Terpanas 2019.

Tanteseks.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *