LEON288

Cerita Sex Ngentot Keponakan Istriku

MajalahDewasa – Cerita Sex Ngentot Keponakan – Keponakanku yang baru menikah tinggal bersamaku karena mereka belum mempunyai rumah sendiri. Hal ini tidak menjadi masalah bagi saya karena saya hidup sendiri setelah sekian lama bercerai dan tidak mempunyai anak setelah pernikahan yang gagal ini. Sebagai pengantin baru, keponakan saya dan istrinya Vivi tentu saja lebih banyak menghabiskan waktu di kamar tidurnya.
Suatu malam, aku mendengar Vivi mengerang dari kamar mereka. Aku mendekati pintu ketika kudengar Vivi mengerang: “Ayo, tidak apa-apa, ayo……, ah, sudah selesai, Vivi belum punya apa-apa.” Tampaknya Vivi belum puas dengan “pertarungan” ini karena suaminya kalah lebih dulu. Berkali-kali saya mendengar rintihan dan akhirnya mengeluh lagi. Vivi yang malang.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Suatu sore saat aku pulang kerja, aku lupa membawa kunci rumah. Aku mengetuk pintu lama sekali sebelum Vivi membukanya. Saya sudah lama terpesona dengan kecantikan dan bentuk tubuhnya. Tinggi badannya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai sampai ke bahunya. Wajahnya sangat cantik dengan mata, alis, hidung dan bibir yang indah. Vivi hanya mengenakan kimono handuk sekitar 6 inci di atas lututnya.
Bagian paha dan betis yang tidak tertutup kemeja terlihat sangat mulus. Kulitnya halus, dihiasi bulu-bulu pendek dan halus. Pinggulnya yang besar terbentang lebar. Pinggangnya tampak ramping. Sementara itu, kimono yang menutupi dada bagian atasnya belum diikat seluruhnya sehingga menyebabkan payudaranya yang montok terlihat melalui celah kemejanya, dan putingnya menonjol dari kimono. Jelas Vivi tidak punya waktu untuk memakai bra. Lehernya panjang dengan beberapa helai rambut menjuntai ke bawah. Sementara itu, bau sabun mandi yang harum tercium dari tubuhnya.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Sepertinya Vivi sedang mandi atau baru saja selesai mandi. Tanpa sengaja, layaknya pria normal, penisku berdiri saat melihat tubuhnya. Dari samping, aku melihat payudaranya menonjol dari kimononya. Melihat Vivi yang membelakangiku, aku membayangkan alangkah nikmatnya jika tubuhnya disentuh dari belakang.

Aku mengikutinya ke ruang makan. Saya mengamati gerakan tubuhnya dari belakang. Pinggulnya yang lebar berayun ke kiri dan ke kanan mengikuti langkahnya. Aku ingin memeluk tubuh itu dari belakang. Aku ingin memasukkan penisku ke pantatnya. Dan aku sangat ingin meremas payudaranya yang montok.
“Maaf Nes, om lupa membawa kuncinya. Apakah kamu merasa tidak nyaman untuk mandi?” kataku. “Sudah selesai, paman,” jawabnya. Aku duduk di meja makan. Vivi membawakanku teh dan masuk ke kamar. Tepat setelah itu, Vivi keluar hanya dengan mengenakan baju tidur berbahan tipis halus sambil memamerkan payudaranya yang bulat. Titan gel murah
Vivi tidak memakai bra sehingga kedua putingnya terlihat jelas di baju tidurnya. Vivi berdiri dari tempat duduknya dan mengambil toples berisi kue dari lemari. Membalikkan punggungnya ke arahku, aku melihat tubuhnya dari belakang, sangat terangsang.
Kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. kesempatan bagi saya untuk melihatnya dari dekat tanpa merasa tidak nyaman. Vivi tidak menyadari bahwa celah kemeja di dadanya memperlihatkan payudara montoknya saat dia sedikit mencondongkan tubuh. Tenggorokanku tercekat. Akhirnya pembicaraan beralih ke seks. “Nes, kamu tidak bahagia dengan suamimu,” kataku blak-blakan. Vivi menundukkan kepalanya karena malu, wajahnya memerah. “Bagaimana Anda tahu?” Dia menjawab dengan lembut. “Paman, mula-mula aku dengar kamu mengerang, lalu mengeluh lagi.
Suami kamu cepet ngecretnya ya” ulangku. Vivi baru mulai merasa nyaman, dia sudah keluar. Aku kesal banget, sepertinya Vivi hanya memuaskan hasratnya, hanya miliknya, Vivi dimulai. Hanya mendengarkan dia bercerita, “Om mandi dulu, waktunya makan.” “Vivi, ayo kita buat makan dulu,” ucapnya mengakhiri perbincangan menarik ini.

“Sepertinya Vivi menyarankan agar kita mandi,” godaku. “Ih si om, genit” jawabnya sambil tersipu. “Kalau Vivi mau, tidak apa-apa,” jawabku lagi. Vivi tidak menjawab, hanya pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Sementara itu aku masuk ke kamarku dan mandi. kontol ku tegang tak terkendali setelah perbincangan menarik tadi.
Selepas mandi, aku hanya memakai celana pendek dan kaos oblong, sengaja tidak memakai CD. Aku sangat ingin ngen totin Vivi malam ini. Selain itu, suaminya juga melakukan perjalanan bisnis ke luar kota selama beberapa hari. Penisku masih memompa dengan kencang hingga terlihat jelas di celana pendekku. Vivi tetap diam saat dia melihat penisku menggeram di luar celana pendekku. Saat makan malam, kami membicarakan hal lain, Vivi berusaha untuk tidak mengarahkan pembicaraan ke arah itu. Saat Vivi tersenyum, aku ingin melumat bibirnya sepenuhnya. Ingin rasanya kuhisap payudaranya dan ingin kuremas pantat lembut Vivi hingga ia menjerit nikmat.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Setelah makan, Vivi menyimpan piring dan gelasnya. Saat kembali dari dapur, Vivi terpeleset dan terjatuh. Sepertinya air tumpah saat Vivi membawa peralatan makan ke dapur. Betis kanan Vivi membentur rak kayu. “Aduh,” Vivi mengerang kesakitan. Saya segera membantunya. Aku meraih punggung dan pinggulnya. Aku menggendong Vivi ke kamarnya. Aku menidurkan Vivi di tempat tidur. Aroma harum sabun terpancar dari tubuhnya. Belahan piamanya terbuka lebih lebar sehingga aku bisa dengan nyaman melihat bulatnya payudaranya.
Nafsuku pun juga meningkat. penis saya semakin tegang.

Saat aku melepaskan tanganku dari pinggulnya, tanpa sengaja tanganku menyentuh pahanya yang terbuka. Vivi berusaha meraih betisnya yang terbentur rak tadi. Saya melihat dampaknya meninggalkan sedikit memar di betisnya. Saya juga mencoba membantunya. Aku memeluk betisnya sambil meraba dan memijat bagian betisnya yang memar. “Pelan-pelan om, sakit,” erangnya lagi. Sesaat kemudian, suaranya menghilang. Sambil terus memijat betis Vivi, aku menatap wajahnya. Matanya kini tertutup. Napasnya menjadi teratur. Vivi sudah tidur. Mungkin karena Anda lelah membersihkan rumah seharian. Saya menjadi semakin lemah karena pijatan dan akhirnya saya berhenti sepenuhnya.
Aku melihat Vivi tertidur. Betapa cantiknya wajahnya. Leher panjang. nya yang montok naik dan turun dengan napasnya yang mengantuk. nya terlihat dari balik piyamanya. Pinggangnya ramping dan pinggulnya yang besar sangat lebar. Orang yang lalai tidak dapat menyembunyikan garis kecil CD berbentuk segitiga. Memikirkan apa yang ada di balik CDya, kendaliku menjadi semakin tegang. Selain itu, pahanya yang putih juga terekspos karena pakaiannya yang terbuka. Belai betis Anda. Saya menemukan bahwa bagian bawah gaunnya mencapai sampai ke perutnya.

Sekarang paha mulus itu terbentang di depanku. Di atas pahanya, beberapa helai rambut kemaluan menyembul dari CD kecil. Sungguh kontras warna. Rambutnya hitam sedangkan tubuhnya putih. Aku menggerakkan tanganku ke selangkangannya sambil mengamati wajah Vivi. Perlahan aku mengusapkan ibu jariku ke bibirnya. Aku mencium paha mulus itu, kiri dan kanan, secara bergantian, sementara tanganku perlahan memijat dan meremasnya. Otomatis pahanya terpisah sedikit. Lalu aku melepas celana pendekku. Aku mencium dan menjilat paha dan betisnya lagi.
tindakanku. Aku memandangi tubuh mulus Vivi tanpa penutupnya. Tubuh indahnya sungguh menggugah hasrat. Dada besar, pinggang ramping, pinggul lebar. Putingnya tegak.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – “Ness, aku ingin memberimu kesenangan, mau atau tidak,” kataku sambil mencium payudara montoknya. Vivi tetap diam sambil memejamkan mata. Hidungku mengendus kedua harum payudaranya, sesekali menjilat bibirnya. Aku melahap puting kanannya di mulutku. Tubuhnya bergetar sedikit saat aku dengan lembut meremas putingnya dengan lidah dan gigi atasku. “Om…”, rintihnya, yang jelas tindakanku juga membangkitkan hasratnya. Karena sangat ingin merasakan keceriaan napsunya, Vivi diam saja dan membiarkanku menjelajahi tubuhnya.
Rephrase
Aku menghisap putingnya secara berirama. Awalnya daya isapnya lemah, lambat laun saya tingkatkan sedikit daya isapnya. Aku memperbesar area bibirku. Kini puting dan payudara kecoklatan di sekitarnya masuk ke mulutku.
Saya kembali menyedot debu area tersebut dari perlahan hingga sedikit kuat. Wajah Vivi tampak sedikit berubah, seolah dia menahan sedikit kenikmatan. Aku mencium kedua payudara harum itu dan menghisapnya secara ritmis. Neraca saya semakin stres. Sambil aku terus memijat payudaranya dengan bibir, lidah dan wajahku, aku terus menggosokkan penisku ke kulit pahanya yang halus dan licin. Aku membenamkan wajahku di antara payudara Vivi. turun perlahan. Aku mengusap wajahku pada lekuk tubuhku yang membentuk batas antara massa dada dan kulit perutku. Kiri dan kanan aku mencium dan menjilat secara bergantian.

Ciuman bibir, jilatan lidah, dan hirupanku berpindah ke perut dan pinggang Vivi. Sambil mengusap kepala kon tol itu, aku gerakkan ke arah betisnya. Bibir dan lidahku menelusuri perutnya di sekitar pusarnya yang putih mulus. Wajahku tertunduk lebih rendah. Dengan hasrat yang menggebu-gebu, perlahan kuremas pinggulnya. Ciumanku berpindah ke CD tipis yang melingkari pinggangnya. Saya telusuri garis antara kulit perut dan CD, ke arah selangkangan. Aku menjilat bulu kemaluannya yang mencuat dari CD. Lalu aku mencium dan menjilat CD merah muda itu dari bibirnya yang telanjang. Vivi semakin terengah-engah untuk mengendalikan hasratnya, bahkan terkadang ia mendengar erangan kenikmatan yang tertahan.
Aku sudah bangun. Berlutut, rentangkan kaki Anda ke seluruh tubuhnya. Aku menempelkan penisku yang sudah mengeras ke kulit dada Vivi. Aku mengusap kepala penisku ke dada montokku. Sambil aku menyentakkan batangnya dengan tangan kananku, aku terus menggosokkan kepala penisku ke payudaranya, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit, saya melakukannya. Aku meraih sisi montok Vivi. Aku berlutut sambil memeluk pinggang ramping Vivi, tubuhku sedikit melengkung. Aku kujepit batang konTolku dengan kedua bagian payudaranya. Kini aku merasakan kehangatan dari dada Vivi memasuki penisku.

Perlahan kugerakan penisku maju mundur sambil membekap kedua payudara Vivi. Kekenyalan daging toket terasa seperti sedang memijat batang penisku, mendatangkan kenikmatan yang luar biasa. Saat dia bergerak maju, Anda bisa melihat ujung penis saya mencapai pangkal lehernya yang panjang. Saat dia mencabutnya, kepala penisku tersembunyi di dalam keterikatan payudaranya. Seiring berjalannya waktu, dorongan penisku menjadi semakin cepat dan aku menggunakan telapak tanganku untuk menekan kedua payudaranya semakin keras sehingga cengkeraman pada batang penisku semakin kuat. Saya juga menyadari bahwa saya menikmati meremas payudaranya. Vivi mengerang tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”
Penisku mulai melelehkan sebagian cairannya. Cairan itu membasahi dada Vivi. Dengan gerak maju mundur penisku pada payudaranya diimbangi dengan tekanan dan kompresi tanganku pada kedua payudaranya, cairan menyebar merata di sepanjang bukaannya dan mengencangkan batang tambang. Cairan ini menjadi pelumas yang memudahkan gerak maju mundur penis saya di payudaranya. Dengan sedikit cairan dari penisku, aku merasakan kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa saat menggosokkan batang dan kepala penisku ke payudaranya. “Halo…hhh… …enak sekali…” Aku tidak bisa menahan perasaan nikmat dan tidak menyenangkan ini. Nafas Vivi menjadi tidak menentu. Desahan keluar dari bibirnya, kadang diselingi desahan lewat hidung, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan Vivi semakin membuat hasratku semakin kuat.
Penisku bergesekan maju mundur di dadanya semakin cepat. Penisku semakin kencang. Saya merasakan pembuluh darah berdenyut melalui batang penis saya, menambah rasa hangat dan nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Nes,” erangku tak terkendali. Aku menggerakkan penisku maju mundur melintasi dada Vivi semakin cepat. Perasaan yang sangat nikmat menyebar dari penisku ke saraf di otakku. Aku melihat wajah Vivi. Alisnya naik turun disertai erangan pelan dari bibirnya akibat tekanan, kontraksi dan goyangan payudaranya. Selama kurang lebih lima menit, aku menikmati sensasi kenikmatan yang luar biasa pada payudaranya.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Aku mengambil payudara kanannya dari telapak tanganku. Tangan kananku kemudian mengarahkan kemaluannya dan mengusap ujung kemaluannya dengan gerakan memutar pada kulit halus dadanya. Sambil jari-jari tangan kiriku terus meremas payudara kiri Vivi, aku menggerakkan penisku membentuk lingkaran ke bawah. Menuju perut. Dan di sekitar pusarnya, aku mengusapkan ujung penisku secara melingkar pada kulit putih mulus perutnya, sambil mendorongnya perlahan ke dalam pusarnya.

Saya mengeluarkan CD minimnya. Pinggul yang melebar tidak lagi tertutupi. Kulit perut asli yang ditutupi CD terlihat sangat jelas. Halus, putih dan sangat halus. Di bawah perutnya, rambut hitam tebal menutupi area sekitar lubang pepeknya. Aku merentangkan paha halus Vivi lebar-lebar. Pada saat ini, hutan di bawah perutnya terlihat, memperlihatkan bintik-bintik yang tak terhitung jumlahnya. Aku pun mengatur kon tolku agar mudah meraih Vivi. Meraih penisku dengan tangan kananku, aku mengusap kepalaku ke rambut Vivi.
Perasaan menggelitik di ujung penisku. Ujung penisku bergerak sepanjang garis rambut menuju vaginanya. Aku mengusap kepala penisku di sekitar bibir memeknya. Rasanya sangat geli dan enak. Dengan lembut aku mengusap kepala penisku ke arah lubang. Dan saya melihat ke dalam sedikit. Seiring berjalannya waktu, tembok No. Lubang Nok menjadi basah. Perlahan aku menggetarkan penisku sambil terus memasuki lubang Nonok. Kini seluruh kepala penisku yang memakai helm berwarna merah muda itu terkubur di mulut nonok Vivi. Saat menyentuh mulut Nonok terasa hangat dan nikmat. Sekali lagi, Vivi mendesis kecil di mulutnya, mengungkapkan kegembiraan yang tak terlukiskan. Penisku menjadi keras.
Sementara itu, dinding mulut Nonok Vivi semakin basah. Perlahan aku mendorong penisku lebih dalam. Kini hanya tersisa separuh batang pohon di luar. Perlahan aku memasukkan penisku ke dalam nonok. Seluruh penisku terkubur di sudut Vivi. Nonok Vivi kini meremas seluruh penisnya dengan sangat nikmat. Perlahan aku menggerakkan penisku masuk dan keluar dari vaginanya. Jika diekspos, yang tersisa di dalam nonok hanyalah kepala penis. Saat dimasukkan, seluruh penis tenggelam ke sudut hingga ke pangkal. Sensasi yang luar biasa, hangat dan nikmat, kini serasa memijat setiap bagian penis saya. Aku terus menggerakkan penisku masuk dan keluar dari vaginanya.
Alisnya terangkat setiap kali penisku perlahan tenggelam ke dalam vaginanya. Bibirnya yang sejuk dan i sedikit terbuka, sementara giginya terkatup. Dari mulut seksi itu terdengar desisan kenikmatan, “Sssh… sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Aku terus menggoyangnya pelan. Ini berlangsung selama enam menit. Aku mengguncangnya lagi dengan perlahan dan lembut. Aku merasakan nikmatnya mengencangkan otot-otot penisku. Saya membiarkannya berdenyut lembut selama dua menit. Aku menarik penisku keluar dari sudut Vivi lagi. Tapi bukan itu saja, saya selalu mengubur kepala kontol di sudut mulut saya. Sementara itu aku segera menggoyangkan batang penisku dengan jemari tangan kananku.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Vivi sepertinya juga merasakan perasaan menyenangkan itu. Vivi mengerang saat ujung penisku menyentuh dinding mulut memeknya, “Sssh.
..sssh…zzz…ah…ah…hhh…” slot terpercaya

Tiga menit kemudian aku kembali memasukkan seluruh penisku ke sudut Vivi. Dan aku mengguncangnya perlahan. Kali ini saya suka menggoyang-goyangkan noknya lebih lama lagi. Sampai sekitar empat menit. Saya sudah lama tidak puas. Aku mempercepat gerakan penisku masuk dan keluar dari sudutnya. Saya merasakan sensasi yang sangat menyenangkan menyebar ke seluruh penis saya. Aku tidak bisa menahan kegembiraanku. Sambil menahan diri, aku mendesis, “Nes…payudaramu luar biasa…enak sekali…”
Gerakan masuk dan keluar yang cepat itu berlangsung sekitar empat menit. Sensasi kesemutan yang nikmat mulai menyebar ke seluruh penisku. Itu artinya aku akan berangkat nanti. Aku mengeluarkan penisku dari Nonok Vivi. Aku segera berlutut, merentangkan kakiku ke seluruh tubuhnya agar penisku mudah mencapai payudaranya. Sekali lagi aku meraih kedua payudara montokku untuk meremas penisku yang berdiri dengan sangat gagah. Agar penisku bisa diremas dengan nyaman, aku sedikit membungkuk.
Aku menyentakkan penisku maju mundur di penjepit payudaranya. Cairan nonok Vivi yang membasahi penisku kini menjadi pelumas yang membantu gesekan antara penisku dan kulit payudaranya. “Oh… panas sekali… Sssh… enak sekali… Tubuhmu luar biasa…” erangku nikmat. Vivi pun mendesis kegirangan, “Ssst…sssh…sssh…” Giginya mengatup. Alisnya terangkat lalu diturunkan. Aku meningkatkan kecepatanku dan menurunkan penisku. Aku meningkatkan tekanan di dadanya untuk membuat penisku lebih kencang. Perasaan nikmat menyebar ke seluruh penisku. Perasaan hangat menyebar ke seluruh penisku.
Karena basah kuyup oleh cairan nonok, ujung penisku sangat mengkilat hingga menonjol dari puting Vivi. jepitan toketnya berwarna coklat tua dan topi baja berwarna merah muda menari-nari di korsetnya. Seiring berjalannya waktu, rasa gatal yang menyebar ke setiap sudut penis saya menjadi semakin hebat. Aku meningkatkan kecepatan membelai Vivi.
Rasa gatalnya semakin parah. Perasaan panas menjadi aneh. Dan rasa lezatnya berada pada puncaknya. Sudah tiga menit sejak penisku bergetar hebat di payudara montok ini. Dan saat sensasi kesemutan dan nikmat pada penisku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga sambil menyentakkan penisku dengan cepat ke payudara indah Vivi. Perasaan gatal, hangat, nikmat yang biasa
Cerita Sex Ngentot Keponakan – akhirnya mencapai puncaknya. Saya tidak bisa lagi menahan pertahanan tanggul. “Vi Vi…! » Aku berteriak tak tertahankan. Mataku terbuka lebar. Hancurkan pertahananku. Perasaan hangat dan nikmat yang luar biasa memasuki seluruh sel penisku saat dia muncrat. Crot! Crot! Crot! Crot!
Spermaku keluar banyak. Hingga empat kali. Jet tersebut begitu kuat hingga mengenai rahang Vivi. Air mani berwarna putih dan terlihat sangat kental. Dari rahangnya, air mani mengalir ke leher Vivi. Sisa air mani di penisku lalu muncrat sebanyak tiga kali. Kreta! Kreta! Kreta! Kali ini penisnya lemah. Semprotan pertama hanya sampai ke bagian belakang lehernya, dan semprotan terakhir hanya mengenai dadanya. Saya menikmati akhir kesenangan. “Luar biasa… nes, badanmu enak sekali…” gumamku. “Mengapa kamu tidak membawanya keluar?” Vivi berkata dengan lembut. “Gak apa kalo om ngecret didalem Nes”, jawabku.
“Tidak apa-apa paman, Vivi ingin sensasi disemprot sperma panas. Tapi Vivi enak sekali paman, Vivi belum pernah merasakan kenikmatan seperti itu,” ulangnya. ingin putaran lagi,” kataku. “Mau om, tapi ngecretnya didalem ya,” jawabnya. “Kenapa kamu diam saja, Nes?” Saya ulangi. “Aku bingung, tapi enak,” jawabnya sambil tersenyum. “Engh…” Vivi menggeliat. Aku segera menyeka penisku dengan tisu di atas meja dan memakai celana pendekku.

Aku mengambil beberapa tisu dan menyeka air mani yang mengalir di rahang, leher, dan dada Vivi. Ada sesuatu yang tidak bisa dihapus, itu adalah cairan yang menempel di rambutnya. “Kamu ada di mana?” Dia bertanya. “Ayo kita minum dulu,” jawabku. “Kenapa pakai celana, katanya mau airnya keluar,” ujarnya. Rupanya Vivi ingin aku melawannya lagi.
Aku kembali dengan segelas penuh air, memberikannya pada Vivi, dan dia langsung meminumnya sampai habis. Saya kembali keluar, mengisi cangkir dengan air dan kembali ke kamar. Masih belum puas, kulihat payudara indahnya terbentang di depan mataku. Mataku memandangi pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang indah dan lebar. Lalu mataku tertuju pada payudaranya yang dikelilingi rambut hitam tebal.
Seks yang indah Vivi. Saya ingin mengulangi permainan sebelumnya, berjuang dan memegang erat tubuhnya. Menyentak kemaluannya dengan milikku dengan ritme yang kuat. Dan saya bisa menyemprotkan air mani saya ke dalam vaginanya sambil memegang erat tubuhnya saat saya datang. Gairah saya tersulut.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – “Vivi…”, erangku penuh nafsu. Bibirku menutupi bibirnya. Aku dengan kasar meremukkan bibirnya pun menyerang bibirku. Sedangkan Vivi tak mau kalah. Bibirnya menyerang bibirku dengan kasar, seolah dia tidak ingin aku menciumnya terlebih dahulu. Tanganku meluncur di antara lengannya. Tubuhnya kini ada di pelukanku. Aku memeluk diriku erat, dan Vivi memelukku lebih erat. Panas dari tubuhnya seolah mengalir ke tubuhku, payudaranya yang bulat semakin mendekat ke dadaku. Jemari Vivi mulai memijat kulit punggungku.
Vivi melepas celanaku dan memeluk punggungku lagi. Aku kembali memeluk erat tubuh Vivi dan kembali mencium bibirnya. Aku terus memeluk tubuhnya sambil mencium bibirnya. Sementara tangan kami saling memijat kulit punggung. Panas datang saat tubuh depan kami saling menempel. Sekarang aku merasakan payudaranya yang montok menekan dadaku. Dan ketika mereka bergerak sedikit, putingnya seperti menggelitik dadaku. Penisku panas dan keras. Tangan kiriku bergerak turun ke tepi pinggang ramping dan pinggul Vivi yang lebar, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. kon tolku remuk oleh perut bagian bawahku dan Vivi. Slot dana

Cerita Sex Ngentot Keponakan – Saat bibirku mencapai lehernya, aku menciumnya, menghisap hidungnya dan menjilatnya dengan lidahku. “Ah… geli… geli…” desah Vivi sambil memiringkan kepalanya sehingga seluruh lehernya dari leher hingga dagu terbuka lebar. Vivi membusungkan dadanya dan membungkukkan pinggangnya ke depan. Dalam posisi ini, meski wajahku melingkari lehernya, namun tubuh kami mulai dari dada hingga perut bagian bawah masih bisa menyatu erat. Tangan kananku kemudian berpindah ke payudaranya yang montok dan meremasnya dengan nikmat.
Sambil mengusap lehernya, wajahku menghadap ke belahan dadanya. Aku berdiri untuk menyapa. Tangan kiriku mengikuti tangan kananku, bergerak menangkup dadaku. Aku meronta-ronta pada payudara Vivi, sementara tanganku meremas kedua payudaranya dan menempelkannya ke wajahku. Aku mengusap wajahku di sekitar dadaku. Bibirku bergerak ke atas bukit payudara kiriku. Aku mencium payudaranya dan memasukkan putingnya ke dalam mulutku. Kini aku menghisap puting kiri Vivi.
Aku menggunakan lidahku untuk memainkan puting di mulutku. Kadang-kadang saya memperbesar sedotan ke puncak bukit susu di sekitar puting susu berwarna coklat. “Ah… ah… om… geli…,” desis Vivi sambil menggeliat-geliat tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Saya memperkuat sedotan saya. Sementara tanganku meremas payudara kananku erat-erat. Kadang-kadang saya menambah dan mengurangi tekanan menuju puncak bukit, dan mengakhirinya dengan tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jari saya pada puting susu. “Um… hhh… gelitik… gelitik… terasa enak sekali… enak sekali… ngilu… ngilu…” Aku semakin bersemangat.
Aku bergantian memainkan payudara Vivi, kiri dan kanan. Terkadang aku menghisap putingnya dengan keras dengan hisapan sekuat tenaga, terkadang aku hanya menghisap putingnya dan meremasnya dengan gigi atas dan lidahku. Terkadang aku meremas belahan satunya dengan area genggaman seluas mungkin dan meremas sekuat tenaga, terkadang aku hanya meremas dan memutar puting kecil yang menonjol dengan bangga di bagian atas. “Ah… oh… lanjutkan… hzzz… sakit… sakit…” desis Vivi nikmat. Matanya terkadang terbuka lebar. Tubuhnya yang memutar ke kiri dan ke kanan menjadi lebih sering.
Sampai Vivi tidak bisa lagi menahan serangan awalku. Jari-jari tangan kanan Vivi yang lembut dan halus menggenggam penisku yang berdiri dengan bangga. “Wah… kemaluannya besar sekali ya?” dia berkata. Sambil membiarkan mulut, wajah dan tanganku terus bermain dan bergulat dengan kedua payudaranya, jemari ramping tangan kanannya meremas lembut penisku seirama. Tekanannya membuat penisku terasa hangat dan nikmat.

Cerita Sex Ngentot Keponakan – Saya dengan penuh semangat memeluk tubuhnya. Aku mencium area antara telinga dan lehernya lagi. Kadang-kadang saya memasukkan daun telinga bagian bawah ke dalam mulut dan memainkan lidah saya. Terkadang ciumanku berpindah ke tengkuk lehernya yang panjang. Aku menjilat pangkal rambut yang jatuh ke kulit lehernya. Sementara tanganku meremas dadanya. Telapak tangan dan jariku menekan kedua sisi payudaranya. Tekanan saya terkadang sangat kuat, terkadang lemah. Togel online
Bagaikan jari telunjuk dan ibu jari tangan kananku kuremas lembut dan memelintir puting susu kirinya, sedangkan tangan kiriku meremas gundukan payudara kanannya dan bibirku menghisap kulit bagian aslinya yang halus dan wangi. dari lehernya, aku mengusap dan menempelkan penisku ke perutnya. Vivi berguling dari kiri ke kanan.
“Ah… oh… sakit… teruskan oh… teruskan… ah… kesemutan… kesemutan… teruskan… hhh … baiklah .. …bagus sekali…bagus sekali…” erang Vivi sambil terus berusaha menggeliat ke kiri dan ke kanan mengikuti irama tanganku yang bermain di dadanya. Alhasil, pinggulnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Getaran pinggulku yang panik membuat gesekan dan penekanan penisku di perutnya semakin terasa nyaman. “Vivi… enak sekali Vivi… sssh… sulit dipercaya… enak sekali…” desisku nikmat.
“Oh, bagus bukan?” Penisnya besar dan keras sekali, menempel di perut Vivi. Wah…penisku terasa hangat di kulit perut Vivi. tangan om nakal sekali … ngilu,…,” rintih Vivi. “Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas saja…” Vivi semakin menggeliat dalam pelukan erat itu. Erangannya Menjadi semakin liar, sepertinya dia sangat menikmati pertarungan itu hingga dia lupa bahwa aku adalah paman suaminya. “Oh…tekanannya kuat sekali…Tanganmu lucu sekali…Sssh…sssh…sakit…sakit…Ah…kontol om…begitu besar…sangat kuat…”
Vivi mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bibirnya meremukkan bibirku dengan keras. Aku juga tidak mau kalah. Aku mencium bibirnya dengan penuh gairah, lenganku memeluk tubuhnya dengan erat. Kulit punggungnya disentuh oleh telapak tanganku, aku meremasnya dengan gugup. Saya kemudian menempatkan Vivi di atasnya.
Penisku terjepit di antara selangkangan dan perut bagian bawahnya. Perasaan hangat mengalir di penisku yang sedang ereksi. Akhirnya, saya tidak sabar lagi. Bibirku kini bergerak mencium dagu dan lehernya, sementara tanganku mengarahkan penisku ke lubangnya.
Aku memutar-mutar kepala penisku melewati rambut tebal di sekitar bibir Vivi. Vivi meraih penisku yang sudah kencang. Paha mulusnya sedikit terbuka. “Paman, penismu besar dan keras sekali,” ucapnya sambil mengarahkan ujung penisku ke lubang penisnya. Ujung penisku menyentuh bibir nonoknya yang sudah basah. Perlahan dan gemetar aku mendorong penisku ke dalam lubang No Nok. Kini seluruh pintu tol saya terkubur di noknya. Saya menghentikan gerak masuk kon tolku.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – “Om…masuk saja…Sssh…enak sekali…tidak berhenti disitu…” Vivi keberatan dengan tindakanku. Tapi aku tidak peduli. Saya biarkan saja kon tolku saya masuk ke dalam lubang nonok sampai ke ujung, namun kon tol saya getarkan dengan amplitudo yang kecil. Sementara itu, bibir dan hidungku ganasnya menjelajahi lehernya yang panjang, lengannya yang halus dan harum, serta ketiaknya yang tidak berbulu.

Vivi menggeliat tak terkendali. “Ssst… sst… enak… enak… geli… geli sekali, OM.” Geli sekali..Lanjutkan..” Bibirku mencium kulit lengannya erat-erat. Sementara itu, aku memusatkan kekuatanku pada pinggulku. Dan…satu…dua…tiga! Aku mendorong masuk. .Penisnya masuk. sedalam mungkin ke sudut Vivi, sangat cepat dan keras. Piring! Selangkanganku bertabrakan dengan keras dengan selangkangannya yang sedikit terbuka.
Sementara itu, sarung penisku seakan ditumbuk oleh bibirnya yang basah, mengeluarkan suara:
srrrt! “OH!” teriak Vivi. Aku terdiam beberapa saat, membiarkan penisku tenggelam sepenuhnya ke sudut Vivi tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit sekali…” kata Vivi sambil memeluk punggungku. Aku mulai memindahkan pintu tol keluar masuk nomor telepon Vivi. Saya tidak tahu apakah penis saya panjang dan besar atau lubang Vivi kecil. Setahu saya semua KON tolku yang masuk ke nonoknya terasa seperti dinding nonoknya ditekan kuat sekali.

“Bagaimana Nes, sakit?” Aku bertanya. “Ssst…enak sekali…enak sekali…penis OM besar dan panjang…memenuhi setiap sudut liang kewanitaanya Vivi…”, jawabnya. Aku terus memompa perlahan kepala Vivi dengan penisku. nya yang menempel di dadaku juga terpelintir oleh dadaku karena gerakan memompa. Kedua putingnya mengeras seolah-olah meluncur ke dadaku.
Penisku terasa seperti diremas oleh otot jarinya seirama dengan doronganku. Ini panas dan sangat lezat. Sementara itu, setiap penetrasi, ujung penisku menyentuh sedikit daging hangat di dalam sudut Vivi. Sentuhannya serasa menggelitik kepala ayam, jadi terasa sedikit geli. Sangat geli.
Aku meraih kedua kakinya dan mengangkatnya. Sambil memastikan pengontrol tol saya tidak ditarik keluar dari lubang nok, saya mempertahankan posisi agak berjongkok. Aku meletakkan betis kanan Vivi di bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus menggoyangkan lubang hidungnya dengan penisku secara perlahan, aku mencium penuh gairah betis kirinya yang sangat indah. Setelah puas dengan betis kiri, lanjut ke betis kanan yang aku cium dan geluti, sementara betis kiri kusandarkan di bahuku.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Saya bergantian melakukan ini beberapa kali, sambil mempertahankan gerakan maju mundur perlahan penis saya di atas sudut Vivi. Setelah puas dengan cara ini, aku letakkan kedua betisnya di pundakku, sementara telapak tanganku menangkup kedua payudaranya. Masih dengan lembut menyentak ayam di dadanya, tanganku meremas payudara montok Vivi. Kedua potong daging empuk itu saya remas dengan kuat dan berirama. Kadang saya memencet kedua putingnya dan memelintirnya perlahan. Putingnya menjadi semakin keras dan payudara menjadi semakin elastis di telapak tangan saya. Vivi mengerang nikmat.
Matanya melebar dan alisnya bergerak sedikit ke atas dan ke bawah. “Ah… om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kon tol om membuat no nok Vivi merasa enak sekali…. kontolku membuat nonok Vivi senang sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar no nok, ya om. Ngecret di dalam saja…” Aku mulai meningkatkan kecepatan menggerakkan penisku keluar masuk sudut Vivi. “Ah-ah-ah…benar juga, paman. ‘Itu benar… sangat cepat. .. Jadi paman, teruskan..’ Erangan Vivi seakan memberiku semangat. Agen togel
Energiku berlipat ganda. Aku melaju keluar masuk pintu tol sesuai nomor telepon Vivi. Mengulang. Setiap bagian penisku terasa seperti diremas dengan cepat oleh sudut Vivi. Mata Vivi menjadi lebih cerah. Begitu pula bagiku, mataku terbuka dan mendesis karena kenikmatan luar biasa yang kurasakan.
“Sssh…sssh… Vivi…bagus sekali…bagus sekali nonokmu…bagus sekali nonokmu.. “Ya OM, Vivi juga merasa enak sekali… teruskan. ..terus om, terusss…” Aku terus menambah kecepatan keluar masuk kontol pada no noknya. “Om… sssh… sssh… Terus… terus… Vivi hampir nyampe…
sedikit lagi… tidak apa-apa…”, Vivi mengoceh. Lepas kendali. Saya terus mengayuh. Saya belum mau diare. Tapi pertama-tama saya harus mewujudkannya. Sementara itu, penisku merasakan sudut Vivi berdenyut kencang. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”

Tiba-tiba aku merasakan penisku diremas sangat erat oleh dinding di pojokan Vivi. Bagian dalam sudut penisku terasa seperti disemprotkan oleh cukup banyak cairan yang mengalir keluar dari sudut Vivi. Dan telapak tangan Vivi meremas lenganku. Vivi hanya bisa berteriak: “…keluar…!” Mata Vivi terbuka lebar. Sejenak aku merasakan tubuh Vivi bergerak-gerak.
Aku berhenti mendorong. Aku membiarkan penisku yang sangat ketat tenggelam ke sudut Vivi. Kon Tolku kepanasan sekali karena disiram cairan nonok Vivi. Kulihat Vivi memejamkan mata sejenak sambil menikmati puncak gunung. Setelah sekitar satu menit, tekanan tangannya di lenganku perlahan mereda.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Kelopak matanya terbuka, menatap wajahku. Selama ini, pelekatan dinding nonoknya ke penis saya berangsur-angsur melemah, meski penis saya tetap kencang dan keras. Aku kemudian meletakkan kembali kaki Vivi di atas tempat tidur dengan posisi agak terbuka. Aku kembali menekan tubuh telanjang Vivi, memastikan p3nisku yang menempel di lubang hidungnya tidak tertarik keluar.
“Wah…tak bisa dipercaya…Rasanya aku berada di surga ketujuh,” kata Vivi dengan raut wajah puas. Penisku masih keras pada sudutnya. Penisku masih besar dan keras. Aku kembali memeluk tubuh Vivi. Penisku mulai keluar masuk hidung Vivi lagi namun masih dengan gerakan pelan. Dinding di sudut Vivi perlahan mulai meremas penisku.
Hangat dan lezat. Namun kini kontol saya lebih lancar dari sebelumnya. Itu pasti karena cairan yang disemprotkan Vivi tadi. Agen slot
“Ahhh… om… lakukan lagi… Sekarang giliran om… menyemprotkan sperma om ke nonok selangkangannya hingga tembakan! Keluar dari nonok, saya biarkan kepalanya tertancap di lubang nonok.

Cerita Sex Ngentot Keponakan – Tekanan dinding nonok saat bergerak ke luar sedikit lebih lemah dibandingkan saat bergerak ke dalam. Bibir Nonok yang sedang menghisap penisku juga tertarik keluar sedikit. Mendengar gerakan keluar itu, Vivi menghela nafas, “Hhh…” Aku terus menekan tombol Vivi dengan gerakan cepat dan tersentak-sentak. Tangan Vivi mencengkeram punggungku saat aku mendorong penisku sedalam mungkin ke dalam vaginanya. Daging selangkangan bergetar dan mengeluarkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kon tolku dan no nok Vivi menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil Vivi:
“Ak! Hah… Ah! Hah… Ah! Hhh…”kon Tolku tampak mengerikan. “Nes… Enak sekali Nes… no nokmu enak sekali… no nokmu hangat sekali… jepitan no nokmu enak sekali…”
“Om… terus om…,” rintih Vivi, “enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kon tolku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontolku ke no noknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontolku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di kontol pun semakin menghebat. “Vivi… aku… aku…” Karena aku menekan rasa aneh senang dan gatal itu, aku tidak bisa menyelesaikan kata-kataku yang tergagap. “Om, Vivi… mau nyamper lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…”
Tiba-tiba penisku bergerak-gerak dan berdenyut sangat kencang. Rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya sudah tidak bisa kubendung lagi. Namun pada saat itu, tiba-tiba dinding di pojokan Vivi mencekiknya dengan sangat erat. Dengan genggaman yang erat dan nikmat ini, aku tak kuasa lagi menahan jebolnya bendungan di kemaluanku.
Prutt! Prut! Prut! Ujung penisku terasa seperti disemprot cairan nonok Vivi, Vivi berteriak, “…nyampee…!” Tubuh Vivi menegang dengan mata terbuka lebar. “Vi Vi…! » Aku mengerang keras sambil memeluk tubuh Vivi erat-erat. Aku membenamkan wajahku erat-erat ke lehernya yang panjang. Sperma saya tidak bisa lagi dihentikan. Crot! Crot! Crot! Spermaku keluar melimpah, menyembur hingga ke dinding terdalam nonok Vivi. kontolku, yang terkubur seluruhnya di memek Vivi, berdenyut-denyut.
Aku dan Vivi terdiam beberapa saat sambil berpelukan erat. Aku mengosongkan sisa air mani ke dalam penisku. Kreta! Kreta! Kreta! Kon Tolku kembali menyuntikkan sisa sperma ke sudut Vivi. Kali ini jetnya lebih lemah. Sedikit demi sedikit, tubuh Vivi dan tubuhku terus gemetar.
Cerita Sex Ngentot Keponakan – Aku mencium lembut leher halus Vivi, sementara tangan Vivi mengusap punggungku dan membelai rambut di kepalaku. Aku senang sekali mendapat ngentotin Vivi.

Tanteseks.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *